Overall Equipment Effectiveness (OEE) merupakan langkah untuk mengukur kinerja serta efektifivitas produksi berdasarkan program Total Productive Maintenance. Perhitungan OEE dilakukan dengan pengukuran yang terdiri dari 3 komponen, yaitu availability, performancr, serta quality.

Komponen availability berkaitan dengan kesediaan waktu yang digunakan untuk produksi, komponen performance berhubungan dengan jumlah hasil produksi, dan quality berhubungan dengan ketetapan standar atau kualitas yang dihasilkan.

OEE dinilai sebagai salah bentuk untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan pada sebuah sistem produksi. Perhitungan yang dilakukan berdasarkan 3 komponen di atas bertujuan agar hasil perhitungan lebih bervariasi berdasarkan sudut pandang yang berbeda, sehingga akurasi perhitung lebih bisa dipertanggung jawabkan.

Manfaat Perhitungan OEE

1. OEE berguna sebagai tolok ukur untuk membandingkan kinerja pada masing-masing bagian produksi dalam perusahaan

2. OEE berguna untuk melihat gambaran terhadap performa dari tiap peralatan untuk bisa dibandingkan kualitas kerjanya yang berperan penting bagi hasil produksi

3. Tahapan awal dalam memprediksi pemeliharaan terhadap peralatan sistem produksi agar bisa menghindari terjadinya kerusakan secara permanen

Cara Perhitungan OEE

1. Availability

Availability merupakan kesediaan dari peralatan produksi untuk bisa beroperasi dan menghasilkan sesuatu, tetapi dalam berjalannya kegiatan produksi seringkali terdapat pengaruh yang menyebabkan operasional tidak sesuai dengan rencana awal. Hal tersebut dilihat dari 2 posibilitas, yakni breakdown dan adjustment.

Breakdown berkaitan dengan terjadinya masalah kerusakan peralatan produksi yang dihitung dari awal dimulainya kerusakan hingga selesai yang dihitung dalam bentuk menit, sedangkan adjustment menggambarkan ketidakmampuan peralatan produksi karena adanya perubahan model produk yang diproduksi.

Contoh Kasus

Akumulasi jam kerja produksi selama 9 jam (540 menit). Breakdown peralatan produksi terjadi selama 20 menit dengan adjusment selama 15 menit. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Rumus : Jam Kerja Produksi per Hari – (Breakdown + Adjustment) / Jam Kerja Produksi
= 540 – (20+15) / 540
= 540 – 35 / 540
= 0.93 dipersenkan menjadi 93%

2. Performance

Performance menghitung jumlah unit produk yang mampu dihasilkan dalam kurun waktu tertentu. Perhitungan performance dilihat dari small stop atau berhentinya peralatan dalam waktu yang masih relatif singkat dan slow running atau yang bisa juga disebut sebagai pengurangan kecepatan peralatan dalam sistem produksi.

Contoh Kasus

Akumulasi jam kerja produksi selama 9 jam (540 menit). Apabila waktu yang dibutuhkan untuk produksi satu produk adalah 2 menit dan hasil fisik produksi sejumlah 500 unit. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Rumus : Jumlah Unit yang Berhasil Diproduksi / Waktu yang Tersedia x Cycle Time
= 500 / 540 x 2
= 500 / 1080
= 0.46 dipersenkan menjadi 46%

3. Quality

Quality merupakan perbandingan antara jumlah produk yang berhasil diproduksi dengan produk yang mengalami kegagalan produksi. Quality diukur berdasarkan dua hal, yakni production defect dan stratup defect. Production defect merupakan kegagalan produksi saat proses produksinya masih berlangsung, sedangkan stratup defect merupakan kegagalan produksi saat peralatan baru pertama kali digunakan.

Contoh Kasus

Apabila perlatan produksi dalam satu kali masa produksi berhasil menghasilkan 600 unit produk dengan adanya jumlah kegagalan produksi sebanyak 35 unit produk, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:

Rumus : (Unit Produksi – Produk Gagal) / Total Unit Produksi

= (600 – 35) / 600

= 565 / 600

= 0.94 dipersenkan menjadi 94%

Penutup

Overall Equipment Effectiveness merupakan strategi yang digunakan untuk mengukur kinerja produksi dalam satu kali periode. Ini bertujuan untuk mencari tahu apakah setelah pasca produksi terdapat dampak yang bisa menimbulkan hal-hal tertentu yang berkaitan dengan penurunan performa peralatan, sehingga menyebabkan penurunan skala produksi. OEE penting dilakukan agar kegiatan produksi selanjutnya bisa berjalan lebih baik lagi dan segera menyelesaikan segala kendala agar operasional serta aset perusahaan dapat terselamatkan.