Pengerjaan suatu proyek tertentu pastinya akan selalu menghadapi permasalahan yang spesifik berkaitan dengan tiap bidang. Permasalahan tersebut merupakan tantangan yang harus diselesaikan secepat mungkin karena berpengaruh pada optimalisasi pengerjaan proyek dan ketepatan waktu penyelesaian.

Untuk itu, penyelesaian solutif harus ditemukan agar bisa menutupi segala kekurangan yang telah menimbulkan permasalahan dan salah satu langkah penyelesaian pada proyek ini bisa dituntaskan dengan metode scrum.

Pengertian Metode Scrum

Scrum merupakan metode iteratif yang penerapannya mengimplementasikan langkah dari metode agile yang secara garis besar membahas penyelesaian proyek melalui beberapa tahapan melalui pengelolaan organisasi melalui langkah kolaboratif antar bidang dalam tim.

Sejarah Kemunculan Metode Scrum

Menilik sejarah awal kemunculan metode scrum, diketahui mulanya berasal dari publikasi artikel yang dilakukan oleh Takeuchi dan Nonaka pada tahun 1986 dengan tajuk “The New Product Development Game”. Adapun isi dari artikel tersebut memuat strategi atau metode apa yang diterapkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan produksi dengan standar berkualitas tinggi.

Hasil dari perkembangan lanjutan survei yang dilakukan oleh Takeuchi dan Nonaka, selanjutnya diimplementasikan pertama kalinya untuk mengatasi permasalahan dalam proses pengembangan pada basis teknologi software.

Mekanisme Penerapan Metode Scrum

1. Penentuan Anggota Tim

Sebagai langkah awal sebelum menyelesaikan permasalahan melalui metode scrum, tentukanlah anggota tim untuk membantu proses kelancaran penyelesaian masalah. Penentuan anggota tim ini dilakukan dengan membagi tiap porsinya pada masing-masing bidang yang dibentuk dan dibutuhkan.

Pengendalian porsi pun harus sesuai dengan beban dan kemampuan anggota untuk mengoptimalisasi serta melancarkan prospek pengerjaan agar semakin cepat terselesaikan.

2. Pemilihan Prosedur Waktu Pengerjaan

Prosedur waktu pengerjaan pada metode scrum dikenal dengan istilah sprint. Sprint ini erat kaitannya dengan aspek penyelesaian dari segi waktu serta batasan maksimal kapan proyek tersebut harus selesai dikerjakan tiap satu periode.

3. Membagi Peran dan Tugas Tiap Bidang

Pembagian peran serta tugas tiap bidangnya perlu dilakukan secara sistemaris supaya menghindari terjadinya ketidakjelasan peran tiap anggota di masing-masing. Pembagian peran dan tugas ini juga harus disesuaikan dengan bidangnya agar tidak menimbulkan peran ganda, sehingga penyelesaian proyek berjalan tidak maksimal.

4. Identifikasi Backlog

Arti dari backlog jika disederhanakan mempunyai makna yang sama dengan proses identifikasi serta permasalahan. Tiap permasalahan dikumpulkan dan selanjutnya diatur dan diurutkan sesuai dengan skala prioritasnya agar memudahkan eksekusi terkait urgensi dari tiap permasalahan.

5. Mulai Menerapkan Sprint

Setelah semua hal selesai dipersiapkan, segeralah memulai sprint dan di sini akan diputuskan mengenai seberapa besar backlog bisa diselesaikan pada tiap proses sprint yang dijalankan.

Karena sprint mempunya prosedur batasan waktu, maka backlog yang masih belum terselesaikan akan dirampungkan pada sprint berikutnya.

Penutup

Scrum merupakan metode penyelesaian proyek yang umum diterapkan untuk menyelesaikan pengembangan dari tiap permasalahan yang dihadapi pada proyek berbasis teknologi. Penyelesaian proyek melalui metode scrum dinilai baik karena menjamin efektifitas dan percepatan terselesaikannya masalah pada sebuah proyek.