Tindakan membelanjakan suatu produk tidak penting disebut sebagai impulsive buying. Fenomena ini sudah jelas merugikan diri sendiri karena ketidakmampuan untuk mengontrol hasrat sehingga tidak terkendalinya arus pengeluaran yang berdampak pada terganggunya simpanan dana pribadi.

Waktu serta kesempatan untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan lainnya jadi terbuang dan memungkinkan untuk tidak terpenuhi secara maksimal akibat simpanan dana yang semakin menipis.

Pengertian Impulsive Buying

Impulsive buying adalah tindakan membeli barang atau menggunakan jasa tertentu secara spontan tanpa adanya perencanaan, di mana barang dan jasa tersebut bukan termasuk sesuatu yang berada pada skala prioritas kebutuhan. Pembelian produk dilakukan tanpa mempertimbangkan fungsi dan kegunaannya, sehingga pada akhirnya mengarah pada tindakan pemborosan uang.

Penyebab Impulsive Buying

Lantas, apa yang mendorong seseorang hingga melakukan impulsive buying? Sebenarnya berbagai faktor bisa menjadi stimulus mengapa seseorang bisa dengan mudahnya membeli produk tidak berguna bagi kebutuhan dirinya saat ini karena didorong oleh pengaruh internal dan eksternal.

Pengaruh internal atau dari diri sendiri berupa kebiasaan yang sulit dihilangkan karena sudah menjadi kebiasaan serta melekat dalam jangka waktu lama. Kebiasaan ini memang sulit dihilangkan apabila tidak terdapat kemauan kuat apalagi jika lingkungan sekitar mendukung terjadinya impulsive buying.

Sedangkan pengaruh eksternal berasal dari keadaan terkini yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku, misalnya perkembangan teknologi mutakhir ditandai oleh terciptanya kemudahan berbelanja melalui marketplace dan e-commerce dengan fitur-fitur ramah penggunanya dan hal tersebut semakin memudahkan seseorang untuk melakukan transaksi pembelian di mana pun dan kapan pun.

Tips Menghindari Impulsive Buying

1. Menyusun Skala Prioritas Kebutuhan

Susunlah skala prioritas kebutuhan saat telah mendapatkan gaji di tiap bulannya. Penyusujan skala prioritas ini penting karena mampu mengingatkan, menghindari, serta mengontrol segala bentuk pengeluaran secara tak terkendali.

Dalam menyusun skala prioritas juga tidak boleh sembarangan apalagi mencantumkan kebutuhan tidak mendasar karena bisa berakibat fatal pada pemenuhan kebutuhan pada aspek lainnya.

2. Identifikasi Aspek-Aspek Kebutuhan

Penting untuk melakukan identifikasi terhadap berbagai aspek kebutuhan karena dari sinilah seseorang bisa membedakan mana kebutuhan primer dan mana kebutuhan sekundernya. Aspek-aspek kebutuhan tersebut misalnya terdiri dari kebutuhan pangan, kebutuhan pokok sehari-hari, serta kebutuhan untuk rekreasi

3. Tanamkan Niat Kuat

Salah satu faktor mendasar untuk terhindar dari impulsive buying adalah dengan meyakinkan diri melalui niat kuat agar bisa bertahan dan terhindar dari tindakan impulsive buying. Jika niat tidak tertanam kuat, berbagai tips yang dijalani akan terasa sia-sia karena tidak adanya niat dari dalam diri.

4. Mempertimbangkan Kembali Pembelian Produk

Pertimbangkan kembali segala fungsi produk sebelum melakukan pembelian. Kenali produk dengan baik meliputi kegunaan dan manfaatnya bagi kebutuhan. Jangan tergesa-gesa dalam memutuskannya karena bisa berakibat fatal dan berujung pada tindakan pemborosan.

5. Batasi Penggunaan Media Sosial

Dengan membatasi penggunaan media sosial, seseorang akan mampu mengontrol tindakannya karena tidak mendapatkan terpaan secara langsung. Pembatasan ini penting karena media sosial telah menjelma sebagai pintu untuk mengakses segala produk dari merek tertentu dan mampu menggerakkan penggunanya untuk berpindah ke laman website atau situs e-commerce.

Penutup

Langkah utama supaya terhindar dari impulsive buying adalah dengan meyakinkan diri serta menanamkan niat kuat mengenai kemauan untuk bisa menghindari tindakan pembelian terhadap produk yang tidak memiliki kegunaan penting bagi kebutuhan. Selain itu, tindakan ini pun bisa dihindari dengan menyimpan uang pada tabungan sehingga alur pengeluaran bisa terekam secara lebih jelas.