Saat beberapa komoditas mengalami kenaikan harga secara signifikan, maka secara otomatis akan berimbas pada tumbuhnya kenaikan pendapatan yang menyebabkan terjadinya kondisi perekonomian yang mengalami stabilitas serta tidak adanya ketimpangan. Pada tahap ini, kondisi yang terjadi dapat disebut sebagai inflasi yang masih dalam batas wajar karena kenaikan harga di komoditas tertentu masih terkendali.

Kondisi tersebut sesungguhnya menciptakan 2 sisi yang berlawanan. Apabila dikendalikan dengan sejumlah kebijakan moneter yang dikaji dengan baik akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi negara. Namun sebaliknya, apabila pemerintah tidak mampu dalam membandingkan serta mengawasi alur kebijakan yang dibuat dengan kondisi ekonomi terkini maka akan menimbulkan terjadinya hiperinflasi.

Pengertian Hiperinflasi

Secara sederhana, hiperinflasi dapat diartikan sebagai kondisi perekonomian suatu negara yang ditandai dengan kenaikan harga suatu komoditas yang disertai dengan penurunan daya beli. Lonjakan harga terjadi begitu cepat serta tidak mengenal waktu, sehingga berujung pada masifnya peredaran uang dalam masyarakat dengan nilai mata uang yang menurun secara drastis.

Jika dilihat dari segi tingkatannya, hiperinflasi terjadi apabila kenaikan harga terjadi di atas 100% dalam jangka waktu singkat. Pada kondisi normal, laporan terjadinya inflasi biasanya terjadi setiap setahun sekali, tetapi saat hiperinflasi laporan tersebut dapat terjadi dalam jangka waktu sebulan saja.

Salah satu dampak utama dari terjadinya fenomena hiperinflasi adalah penurunan nilai mata uang serta berpotensi pada hilangnya nilai mata uang, sehingga tidak lagi berharga.

Faktor-Faktor Terjadinya Hiperinflasi

1. Terjadinya Defisit Anggaran

Pencetakan uang yang dilakukan oleh pemerintah sejatinya harus disikapi dengan bijak karena solusi tersebut tidak selamanya bernilai solutif dan menjadi jalan satu-satunya untuk mencegah terjadi defisit anggaran.

Pencetakan uang yang tidak terkendali mampu mengakibatkan terjadinya hiperinflasi karena peredaran jumlah uang yang beredar masif. Solusi tersebut sebaiknya dikaji terlebih dahulu dengan mempertimbangkan pada sejumlah kebijakan yang mampu menguatkan tatanan perekonomian suatu negara yang diimbangi secara situasional dengan melihat kondisi perekonomian terkini.

Jika terjadi kesalahan pada pengambilan keputusan tersebut bisa menimbulkan ketidakberdayaan masyarakat dalam membeli kebutuhan karena nilai uang yang beredar tidak sebanding dengan tingkat harga dari komoditas yang diperdagangkan. Alhasil, ketimpangan ekonomi dapat terjadi yang diikuti oleh sejumlah permasalahan sosial lainnya.

2. Stabilitas Kondisi Sosial Politik

Kondisi sosial politik terkini pada suatu negara menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya hiperinflasi karena konflik internal yang terjadi dalam suatu negara dapat menimbulkan ketidakstabilan ekonomi yang memicu hiperinflasi.

Kondisi tersebut dapat ditandai dengan memanasnya hubungan antara pemerintah dan masyarakat akibat permasalahan yang bermuara pada kebijakan yang bersinggungan dengan kepentingan rakyat, sehingga menciptakan tidak stabilnya kondisi sosial politik di negara tersebut. Ketidakstabilan tersebut dapat berupa kerusuhan, demonstrasi, hingga vandalisme yang secara keseluruhan dapat memantik penurunan pendapatan nasional secara drastis karena pengalihan anggaran yang digunakan untuk mengatasi konflik-konflik yang ada.

3. Peningkatan Kebutuhan Masyarakat

Peningkatan kebutuhan disebabkan oleh perilaku konsumtif masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi pasar, sehingga timbul peningkatan harga yang berpengaruh pada komoditas serta sektor industri yang saling berkaitan satu sama lain. Contoh dari fenomena satu ini terjadi pada tahun 1980-an, di mana pemerintah Indonesia melakukan pemangkasan suku bunga serta pemotongan pajak karena berkaca pada peningkatan perkembangan ekonomi yang dinilai cepat. Hal tersebut pun membuat lonjakan harga suatu komoditas yang jika terjadi secara berkelanjutan akan menjelma sebagai faktor pemicu terjadinya hiperinflasi.

Penutup

Hiperinflasi yang melanda suatu negara dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kegagalan pemerintah dalam mengatasi pengelolaan kebijakan moneter, sehingga berdampak pada hilangnya kontrol terhadap pengawasan peredaran uang di masyarakat. Cukup sulit untuk mengembalikan situasi untuk kembali seperti semula karena berdampak secara jangka panjang dan efek yang timbul berskala besar serta mampu memengaruhi sektor-sektor industri lainnya.