Saat perusahaan tengah berusaha untuk melakukan pengembangan atau ekspansi mengenai keberlanjutan eksistensi di masa mendatang, tentunya perusahaan tersebut membutuhkan modal demi mampu mewujudkannya. Pengembangan dan ekspansi perusahaan merupakan impian setiap pihak yang tengah menjalankan bisnis karena dengan pengembangan tersebut maka produktivitas serta pertumbuhan perusahaan akan semakin meningkat pula dan disertai dengan jumlah pertambahan pemasukan yang semakin signifikan.

Hal tersebut tidak mampu diwujudkan jika perusahaan tidak mempunyai modal cukup. Saat ini, perencanaan pertambahan cadangan modal bisa dilakukan melalui berbagai macam cara, seperti pinjaman kredit bank, obligasi, atau mengajukan penerbitan jumlah saham baru. Penerbitan jumlah saham baru artinya adalah perusahaan menambah jumlah lot saham yang beredar di publik untuk bisa dibeli oleh para pemegang saham. Langkah ini umum digunakan oleh perusahaan jika ingin terhindar dari penumpukan beban biaya utang yang diakibatkan oleh pinjaman kredit melalui bank.

Berdasarkan pembagiannya, penerbitan saham baru dibagi menjadi 2, yakni right issue dan private placement. Kedua istilah disebut pula dengan Penambahan Modal Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) dan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau (PMTHMETD). Kedua pembagian dari penerbitan saham baru ini memiliki perbedaan mendasar mengenai siapa saja yang diperbolehkan untuk melakukan pembelian saham. Lantas, apa perbedaan kompleks dari kedua jenis penerbitan saham baru tersebut? Dan apa dampaknya bagi pergerakan saham? Agar semakin memahaminya, simak penjelasan di bawah ini!

Perbedaan Right Issue dan Private Placement

Right issue dan private placement sejatinya memiliki persamaan arti hanya saja sasaran yang dituju berasal dari pihak berbeda. Jika pada right issue sasaran penerbitan saham mengacu pada pemegang saham lama (existing). Pemegang saham lama diberikan sebuah hak prioritas untuk bisa membeli saham baru sebelum kesempatan itu nantinya diberikan kepada pemegang saham baru. Jika diurutkan kembali berdasarkan skala prioritasnya, pemegang saham mayoritas akan menjadi pihak pertama yang diberikan hak tersebut.

Berbeda dengan right issue, kebijakan pada private placement menyasar pihak-pihak tertentu untuk dijadikan sebagai sasaran utama dalam penerbitan saham baru. Biasanya, sasaran tersebut mengarah pada pihak-pihak yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan pemilik perusahaan. Transaksi pembelian saham baru dilaksanakan secara langsung tanpa melewati sejumlah mekanisme pada di bursa efek.

Tujuan Penerbitan Saham Baru

Tujuan penerbitan saham baru oleh perusahaan pastinya dilakukan untuk menambah cadangan modal yang berfungsi sebagai bentuk keperluan ekspansi bisnis dalam memperluas jaringan penjualan produk pada pasar serta sebagai bentuk usaha pengembalian dana pinjaman sebelumnya yang masih tersendat akibat kekurangan dana. Kedua hal tersebut merupakan urgensi utama mengapa perusahaan melakukan penerbitan saham baru. Namun, penerbitan saham baru tidak serta merta memperoleh hasil sesuai dengan keinginan perusahaan karena itu semua didorong oleh beberapa hal, meliputi tujuan dilakukannya penerbitan saham baru, prospek pertumbuhan perusahaan, dan latar belakang perusahaan berdasarkan laporan keuangannya.

Biasanya, penerbitan sahamsaham baru akan lebih diminati apabila tujuannya untuk ekspansi bisnis karena melalui agenda tersebut diyakini lebih mampu menciptakan peningkatan pertumbuhan bisnis karena berkaitan dengan laba bersih perusahaan. Namun, faktor-faktor penyebab keberhasilan penerbitan saham baru bergantung dari berbagai hal, sehingga tidak ada salahnya jika perusahaan tetap berusaha melakukan pengajuan tersebut.

Kemudian, tujuan dilakukannya penerbitan saham baru lainnya adalah sebagai upaya menghindarkan perusahaan dari adanya penambahan beban utang jika langkah penambahan modal berasal dari pinjaman kredit bank. Pinjaman kredit bank akan membuat perusahaan semakin waspada dalam pengelolaan keuangannya karena kewajiban pengeluaran dana semakin meningkat. Selain itu, pengajuan pinjaman yang tidak mudah dikabulkan juga menjadi alasan mengapa penerbitan saham baru dipilih sebagai solusi efektif bagi penambahan cadangan modal perusahaan.

Dampak Penerbitan Saham Baru Bagi Pergerakan Harga Saham

1. Dilusi saham

Dampak penerbitan saham baru menyebabkan terjadinya dilusi saham. Dilusi saham adalah pengurangan persentase kepemilikan akibat penyusutan nilai saham karena penerbitan saham baru. Dilusi saham terjadi apabila pemegang saham yang diberikan hak prioritas tidak melakukan pembelian saham baru. Hal ini berpengaruh secara kompleks karena berimbas pula pada saat perolehan nilai dividen berlangsung.

2. Peluang Terjadinya Kenaikan Harga Saham

Kenaikan harga saham berpeluang terjadi apabila dalam pelaksanaan mekanisme pembelian saham baru dibeli dengan jumlah besar atau terdapat pihak tertentu yang membeli saham tersebut, sehingga mendorong kenaikan harga saham. Pihak tersebut dianggap memiliki pengaruh kuat atau dikenal sebagai sosok yang berpengalaman dalam dunia saham, sehingga saat pihak tersebut melakukan pembelian saham baru akan memicu pemegang saham lainnya untuk turut serta melakukan investasi pada saham tersebut.

Penutup

Penerbitan saham baru bertujuan agar perusahaan bisa memperoleh tambahan cadangan modal yang berguna bagi pertumbuhan perusahaannya. Tujuan masing-masing perusahaan dalam melaksanakan penerbitan saham baru bermacam-macam, diantaranya untuk ekspansi bisnis serta pelunasan utang perusahaan. Berbagai faktor dapat memengaruhi keberhasilan penyerapan modal tambahan melalui penerbitan saham baru dan perusahaan harus tetap berusaha mengelola produktivitas dengan sebaik-baiknya dari berbagai sisi, sehingga jika suatu saat nanti terjadi keinginan untuk melakukan penerbitan saham baru hal tersebut bisa menuai hasil maksimal.

© 2021, Moderator emiten.com. All rights reserved.

Artikel Lainnya oleh Tim editor emiten.com

Startup yang terus berkomitmen tingkatkan kualitas ekosistem pasar modal Indonesia

PT APLIKASI EMITEN INDONESIA