Belakangan ini, sejumlah brand gencar melakukan teknik pemasaran baru untuk memberikan angin segar terhadap produknya dengan berbagai cara sehingga mampu menarik perhatian konsumen.

Salah satu teknik pemasaran tersebut ialah co-branding. Mungkin bagi sebagian besar orang kurang paham definisi sesungguhnya dari co-branding tetapi jika sudah diberikan gambaran mengenai contoh dari co-branding pastinya akan cepat mengetahui makna sesungguhnya dari istilah tersebut.

Pengertian Co-branding

Istilah co-branding dapat diartikan sebagai strategi yang memanfaatkan penggabungan produk dari brand-brand tertentu sehingga membentuk suatu produk baru yang dijual kepada masyarakat.

Untuk semakin mudah memahaminya, co-branding sangat kental dengan unsur kolaborasi antara beberapa brand, di mana masing-masing brand tersebut mempunyai ciri khas serta karakteristiknya sehingga mampu menyatukan serta menegaskan identitas dari produk baru yang dihasilkan.

Tujuan Co-branding

Sejak awal kemunculannya, strategi co-branding tentunya hadir sebagai bentuk pengemasan sajian produk baru untuk mampu menarik minat serta meningkatkan daya beli masyarakat dan perusahaan pun mengalami keuntungan.

Aliansi brand satu dengan brand lainnya dipercaya mampu memberikan efek bagi perluasan jangkauan bisnis dan menambah peningkatan dari brand awareness sebuah produk sehingga kembali diingat oleh masyarakat.

Kelebihan Co-branding

1. Peluncuran produk mampu menarik secara lebih luas jangkauan konsumen, sehingga mampu meningkatkan penambahan jumlah konsumen dan secara otomatis pendapatan perusahaan pun akan meningkat.

2. Membuka peluang bagi brand kecil untuk lebih dikenal oleh masyarakat apabila melakukan co-branding dengan brand yang namanya telah dikenal luas oleh masyarakat.

3. Kolaborasi mampu memberikan dorongan bagi perusahaan sehingga menjadi lebih produktif dalam menciptakan ide-ide baru untuk menerapkan sebuah inovasi bermanfaat.

4. Sebagai langkah penghematan strategi pemasaran karena kegiatan promosi dapat dilakukan secara bersamaan dengan terciptanya peluang terhadap daya jangkau lebih luas.

Kekurangan Co-branding

1. Kolaborasi brand menimbulkan sejumlah tantangan baru terhadap perusahaan yang terlibat di dalamnya karena harus mengikuti standar pemberlakuan kerja sama demi menghasilkan terselenggaranya kegiatan co-branding secara sukses.

Hal ini menggambarkan bahwa meskipun co-branding dilakukan untuk hal positif, nyatanya akan terdapat kekurangan dalam keputusan penentuan konsep brand karena harus mempertimbangan serta menyatukan ide dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

2. Penentuan kolaborasi harus dilakukan dengan matang serta tepat sasaran karena jika hal tersebut tidak berjalan dengan selaras maka mampu menimbulkan tidak terpenuhinya tujuan. Kegagalan co-branding memberikan efek besar selain dari sisi aspek keuangan perusahaan, tetapi juga dapat memengaruhi reputasi dari brand tersebut.

Perbedaan Co-branding dengan Co-Marketing

Perlu diketahui jika co-branding dan co-marketing mempunyai pengertian serta arah tujuan pemasaran yang berbeda. Co-branding lebih memfokuskan terhadap adanya persetujuan antar brand untuk bekerjasama serta berkolaborasi menciptakan produk baru. Biasanya, produk tersebut hanya dijual sementara dan terbatas.

Lain halnya dengan co-marketing, istilah ini merujuk pada penerapan strategi pemasaran yang telah disetujui serta disepakati oleh sejumlah brand dengan tujuan utama adalah untuk mempromosikan masing-masing produk dari brand tersebut secara bersamaan.

Penutup

Jadi, bisa disimpulkan jika co-branding merupakan kolaborasi antara beberapa brand untuk menciptakan produk baru,  di mana elemen-elemen dari penciptaan produk tersebut didukung oleh identitas serta karakteristik dari masing-masing brand tersebut.

Adapun contoh sederhana dari co-branding adalah kolaborasi dari produk kosmetik Mizzu dengan Biskuit Khong Guan yang menghasilkan sebuah produk baru berupa produk kosmetik dengan kemasan yang mirip dengan kaleng kemasan Biskuit Khong Guan