Setiap kali pasar saham tiba-tiba anjlok, satu fenomena klasik selalu muncul: panic selling. Investor berbondong-bondong menjual sahamnya karena takut rugi lebih dalam. Grafik harga merah seolah menyalakan alarm bahaya di benak banyak orang. Rasanya seperti harus segera keluar sebelum semuanya hancur. Namun di sisi lain, justru pada saat seperti itulah investor berpengalaman mulai tenang dan melihat peluang. Dalam dunia investasi, perbedaan antara kehilangan dan mendapatkan keuntungan sering kali ditentukan oleh bagaimana seseorang bereaksi terhadap kepanikan pasar.

Panic selling tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari campuran fear yang mendalam dan hilangnya rasa percaya diri terhadap logika investasi. Ketika indeks turun tajam dan media memberitakan kekacauan ekonomi, banyak investor langsung berasumsi bahwa krisis besar sedang terjadi. Mereka tidak lagi menilai fundamental perusahaan, melainkan hanya fokus pada perasaan takut kehilangan uang. Inilah jebakan emosional yang membuat banyak portofolio hancur bukan karena pasar, melainkan karena keputusan tergesa-gesa. Sementara itu, investor profesional memahami bahwa volatilitas adalah bagian alami dari siklus pasar. Mereka tahu bahwa kepanikan massal sering kali menciptakan harga yang terlalu murah untuk diabaikan.

Dalam konteks psikologi pasar, panic selling adalah momen ketika logika kalah oleh emosi. Banyak investor yang sebelumnya yakin pada strategi jangka panjang tiba-tiba berubah pikiran hanya karena harga saham turun 10–20%. Padahal, penurunan semacam itu bisa jadi hanya reaksi sementara terhadap berita ekonomi, bukan tanda kehancuran perusahaan. Ketika greed mendominasi, investor membeli saham dengan euforia berlebihan. Namun saat fear mengambil alih, mereka menjual segalanya bahkan di bawah nilai wajar. Perbedaan investor sukses dan gagal bukan pada seberapa besar modalnya, tetapi pada seberapa kuat ia mampu menjaga ketenangan di tengah badai.

Contoh nyata bisa dilihat dari beberapa krisis pasar sebelumnya. Saat pandemi melanda, IHSG sempat turun tajam hingga ribuan poin. Banyak investor ritel menjual sahamnya dalam ketakutan, sementara sebagian investor profesional justru membeli di saat harga jatuh. Ketika pasar pulih, perbedaan hasil antara dua kelompok ini sangat kontras. Mereka yang panik kehilangan potensi keuntungan besar, sedangkan yang tenang menikmati rebound signifikan. Inilah bukti bahwa menang dalam investasi bukan tentang prediksi, tetapi tentang mengendalikan emosi.

Untuk menghadapi panic selling, langkah pertama adalah memahami alasan di balik penurunan harga. Tidak semua koreksi berarti masalah serius. Terkadang, pasar hanya bereaksi terhadap sentimen jangka pendek, seperti isu suku bunga, inflasi, atau ketegangan geopolitik. Investor yang mampu membedakan antara penurunan karena fundamental dan penurunan karena sentimen akan selalu memiliki keunggulan. Jika penurunan disebabkan oleh faktor sementara, justru itu bisa menjadi peluang membeli saham berkualitas dengan harga diskon.

Langkah kedua adalah menyiapkan strategi risk management sebelum badai datang. Investor profesional selalu memiliki rencana — kapan harus membeli, menambah posisi, atau menahan diri. Mereka tidak membuat keputusan di tengah kepanikan. Salah satu cara efektif adalah dengan menentukan batas risiko sejak awal, misalnya melalui cut loss plan atau diversifikasi aset. Dengan begitu, setiap pergerakan pasar bisa dihadapi dengan kepala dingin karena risiko sudah terukur.

Selain itu, menjaga likuiditas portofolio juga menjadi kunci penting. Ketika pasar sedang turun, memiliki sebagian dana tunai membuat investor memiliki fleksibilitas untuk membeli saham saat valuasi murah. Ini bukan tentang menebak waktu pasar, melainkan tentang memiliki amunisi ketika peluang muncul. Banyak investor gagal karena seluruh dananya terikat di saham tanpa cadangan tunai. Ketika harga jatuh, mereka tidak bisa memanfaatkan momentum. Investor sukses justru memanfaatkan masa kepanikan sebagai waktu terbaik untuk akumulasi saham berfundamental kuat.

Mentalitas jangka panjang juga menjadi benteng utama menghadapi panic selling. Pasar saham memang bergerak fluktuatif, tetapi dalam jangka panjang cenderung naik seiring pertumbuhan ekonomi. Investor yang memahami hal ini tidak akan mudah panik terhadap pergerakan harian. Mereka fokus pada nilai perusahaan, bukan harga sesaat. Dalam logika investasi cerdas, setiap penurunan pasar adalah bagian dari siklus yang memberi peluang baru. Sebaliknya, panic selling hanya memperkuat lingkaran ketakutan yang berulang.

Selain logika, disiplin dan kesabaran juga berperan besar. Investor sukses tidak membiarkan berita negatif memengaruhi keputusan mereka secara langsung. Mereka membaca laporan keuangan, memeriksa fundamental, dan menilai prospek bisnis sebelum mengambil tindakan. Saat mayoritas investor sibuk menjual, mereka justru melakukan riset. Ketika pasar kembali tenang, hasil dari ketenangan itulah yang membuahkan keuntungan. Prinsipnya sederhana: ketika orang lain panik, gunakan logika; ketika orang lain serakah, gunakan kehati-hatian.

Ada satu kesalahan umum yang sering dilakukan investor saat panic selling, yaitu menganggap uang tunai adalah tempat paling aman. Memang, menyimpan dana di rekening bisa terasa menenangkan sesaat, tetapi dalam jangka panjang, inflasi akan menggerus nilainya. Dengan kata lain, terlalu lama berada di luar pasar justru bisa membuat kehilangan peluang pertumbuhan. Itulah mengapa investor profesional selalu menjaga keseimbangan — mereka tidak memaksakan diri masuk saat pasar berisiko tinggi, tetapi juga tidak keluar sepenuhnya karena takut.

Dalam dunia investasi, ketenangan adalah bentuk kekuatan. Ketika pasar jatuh dan semua orang takut, kemampuan untuk tetap berpikir rasional adalah keunggulan terbesar. Tidak ada strategi yang bisa menjamin keuntungan 100%, tetapi ada satu prinsip yang selalu terbukti: investor yang tenang dan konsisten hampir selalu lebih unggul dibanding mereka yang panik dan impulsif.

Investasi sejatinya adalah perjalanan panjang, bukan perlombaan. Ada kalanya pasar naik cepat, ada kalanya turun tajam. Namun, bagi mereka yang memiliki rencana, disiplin, dan logika, setiap gelombang hanyalah bagian dari perjalanan menuju tujuan keuangan yang lebih besar. Jadi, saat panic selling berikutnya terjadi, jangan biarkan emosi mengambil alih. Gunakan data, pahami fundamental, dan percayalah bahwa pasar selalu memberi peluang bagi mereka yang berpikir dengan kepala dingin.

Pantau data dan analisis investasi terkini hanya di emiten.com/info agar tidak tertinggal peluang berikutnya.

© 2025, magang. All rights reserved.

Artikel Lainnya oleh Tim editor emiten.com

Leave a Comment

Startup yang terus berkomitmen tingkatkan kualitas ekosistem pasar modal Indonesia

PT APLIKASI EMITEN INDONESIA