Medical Tourism dikenal sebagai aktivitas dimana pasien bepergian lintas negara untuk mendapatkan perawatan kesehatan di negara tersebut. Aktivitas ini berlangsung secara global yang menjadi trend di beberapa negara termasuk diantaranya Indonesia.

Dilansir dari Bloomberg, sekitar 1,2 juta orang Indonesia berobat ke negara tetangga untuk medical check up atau tindakan lainnya, menurut Matt Zafra, Principal and Head of Asia Pacific Health and Life Sciences di firma Oliver Wyman. Mereka (pasien Indonesia) menghabiskan sekitar $2 Milyar dollar dan lebih dari setengahnya dilakukan di Malaysia dan Singapura.

Namun trend ini harus goyah bersamaan dengan pandemi COVID19 yang menyebar luas di kawasan Asia Tenggara sejak Maret 2020. Setelah itu diberitakan aktivitas medical tourism lumpuh total. Masyarakat takut untuk berpergian keluar rumah, apalagi ke rumah sakit. Tak hanya itu pembatasan perjalanan baik di Indonesia maupun di negara tujuan seperti Malaysia dan Singapura turut mempersulit keadaan. Hal yang sama diyakini juga terjadi di Malaysia, terkhusus Penang yang ekonominya tergantung dari industri medical tourism. Sementara itu menurut UNWTO (UN World Tourism Organization), butuh waktu 2,5 hingga 4 tahun hingga market international tourism kembali ke level 2019.

Menurut Gita, perwakilan dari www.berobatkepenang.com, perusahaan yang membantu pasien Indonesia berobat ke Penang, Malaysia. Untuk saat ini sebenarnya pasien masih bisa berobat, Gita mengungkapkan: “Saat ini memang pasien asal indonesia masih bisa pergi berobat ke Penang, namun harus mengikuti prosedur berobat khusus selama pandemi dimana pasien harus melakukan karantina 14 hari begitu sampai dan berangkat menggunakan pesawat atau ferry charter. Hal ini tentu memberatkan bagi banyak pasien” ujarnya. Ia menambahkan bahwa , market medical tourism akan pulih secara bertahap dengan syarat herd immunity telah terbentuk. Kondisi tersebut terjadi ketika 70 persen warga sudah divaksin dan memiliki antibodi terhadap COVID-19, dipercaya wabah virus COVID-19 akan segera teratasi.

Herd immunity bisa terbentuk tergantung dari kecepatan tiap negara dalam melakukan vaksinasi ke warganya. Dengan begini masyarakat akan kembali yakin untuk berpergian, terutama untuk tujuan berobat. Dilansir dari Detik.com, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin berharap Indonesia bisa mencapai herd immunity pada Maret 2022 mendatang. Namun, ini bergantung kembali pada jumlah ketersediaan vaksin sehingga bisa dipercepat agar bisa terbentuk pada 2021.

Semoga hal ini dapat segera terwujud sehingga di semester kedua 2022, market medical tourism khususnya di kawasan Asia Tenggara bisa segera pulih.